MNRTV News, Jakarta — Rumah produksi Palari Films resmi merilis trailer, poster, dan original soundtrack (OST) film Monster Pabrik Rambut yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 4 Juni 2026.
Disutradarai oleh Edwin, film ini menghadirkan horor yang terasa dekat dengan realitas banyak pekerja masa kini—ketika tempat kerja berubah menjadi “monster” yang menuntut produktivitas tanpa henti.
Trailer menampilkan suasana mencekam di sebuah pabrik rambut, tempat dua saudari, Putri dan Ida—diperankan Rachel Amanda dan Lutesha—bekerja sambil mengungkap misteri kematian ibu mereka. Namun, alih-alih menemukan jawaban, keduanya justru dihadapkan pada kejanggalan yang semakin memperkuat dugaan adanya sesuatu yang tidak wajar.
Sosok Bona, adik bungsu yang diperankan Iqbaal Ramadhan, menghadirkan simbol unik. Karakter ini memiliki kemampuan regenerasi tubuh layaknya Axolotl—sebuah metafora tajam tentang pekerja yang seolah dituntut terus “memperbaiki diri” demi tetap produktif.
Film ini merupakan ko-produksi internasional yang melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Naskahnya ditulis Edwin bersama Eka Kurniawan, melanjutkan kolaborasi mereka setelah film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang meraih pengakuan global.
Selain jajaran pemain utama, film ini juga dibintangi Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev. Menariknya, Iqbaal juga terlibat sebagai produser eksekutif bersama Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo, dan Maudy Ayunda.
Edwin mengatakan, film ini ingin menyuarakan realitas bahwa dunia kerja kerap menuntut manusia bekerja seperti mesin, bahkan hingga melampaui batas fisik.
“Kondisi kerja sering membuat kita seperti mesin, terus bekerja atas nama produktivitas. Kalau sampai mencelakakan diri sendiri, itu jadi menyedihkan,” ujarnya.
Poster resmi film memperlihatkan para karakter dengan tatapan kosong, seolah kurang tidur—visual yang memperkuat kritik terhadap budaya kerja berlebihan atau hustle culture.
Sementara itu, OST berjudul Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang dibawakan Sal Priadi digadang-gadang menjadi “anthem” bagi para pekerja yang bergelut dengan lembur tanpa henti. Lagu ini berawal dari adegan dalam film yang kemudian dikembangkan menjadi karya penuh.
Rachel Amanda menyebut tema overwork dalam film ini sangat relevan dengan kondisi generasi saat ini, terutama milenial dan Gen Z yang kerap menormalisasi kerja berlebihan.
“Overwork itu nyata. Kita sering dengar orang lembur sampai babak belur. Film ini ingin menyadarkan bahwa istirahat itu hak,” ujarnya.
Dengan pendekatan visual yang unik dan cerita yang menyentil, Monster Pabrik Rambut diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga pemantik diskusi tentang batas sehat dalam bekerja di era modern.














































