MNRTV NEWS, Jakarta——Legenda tentang Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro hidup dan berkembang di tengah masyarakat Jawa Tengah, khususnya di wilayah Wonosobo dan Temanggung. Kisah ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi lisan yang menjelaskan asal-usul dua gunung yang berdiri berdampingan tersebut.
Cerita ini mengisahkan tentang siapa yang terlibat dalam peristiwa besar di masa lampau, yakni keluarga kerajaan di Tanah Jawa ketika kekuasaan masih dipegang oleh kerajaan-kerajaan kuno. Dalam kisah tersebut, dua tokoh utama menjadi pusat perhatian karena pilihan dan pengorbanan mereka menentukan nasib banyak orang.
Peristiwa itu disebut terjadi pada masa pemerintahan Airlangga yang memimpin Kerajaan Medang. Kerajaan ini digambarkan sebagai wilayah yang makmur, aman, dan memiliki tatanan sosial yang tertib di bawah kepemimpinannya.
Kerajaan Medang diceritakan berada di sebuah lembah subur dengan sungai-sungai jernih dan hutan hijau yang mengelilinginya. Kondisi geografis tersebut membuat wilayah itu kaya hasil bumi dan menopang kehidupan rakyatnya.
Kemakmuran kerajaan menjadi latar penting dalam legenda ini karena memperlihatkan situasi awal sebelum bencana terjadi. Stabilitas politik dan kesejahteraan sosial menjadi gambaran keadaan yang kemudian berubah drastis akibat wabah penyakit misterius.
Wabah tersebut menjadi peristiwa utama yang menggerakkan alur cerita. Penyakit menyebar dengan cepat dan menimbulkan banyak korban jiwa, sehingga menimbulkan kepanikan dan duka mendalam di seluruh wilayah kerajaan.
Para tabib istana tidak berhasil menemukan obat untuk menghentikan penyebaran penyakit itu. Kondisi tersebut menuntut adanya tindakan segera demi menyelamatkan rakyat yang semakin banyak jatuh sakit.
Dalam situasi genting itulah dua putra raja mengambil peran. Putra sulung bernama Jaka Sumbing dikenal memiliki keberanian dan kekuatan fisik yang menonjol, sementara adiknya, Jaka Sindoro, lebih dikenal sebagai pribadi yang tenang dan gemar menimba ilmu.
Perbedaan karakter keduanya menjadi unsur penting dalam legenda ini. Jaka Sumbing cenderung mengandalkan tenaga dan keberanian, sedangkan Jaka Sindoro menekankan pertimbangan akal serta kebijaksanaan dalam bertindak.
Upaya penyelamatan dimulai ketika ditemukan informasi mengenai bunga sakti bernama Tirta Kahuripan yang diyakini mampu menyembuhkan segala penyakit. Bunga tersebut konon tumbuh di puncak Gunung Segara Wening, tempat yang dikenal angker dan berbahaya.

Gunung Segara Wening digambarkan sebagai lokasi yang jauh dan sulit dijangkau. Hutan lebat, sungai deras, serta lembah berkabut menjadi rintangan yang harus dilewati dalam perjalanan menuju puncak.
Kedua pangeran memutuskan berangkat bersama sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan rakyat. Keputusan ini menunjukkan siapa yang terlibat dan mengapa perjalanan itu menjadi sangat penting bagi keberlangsungan kerajaan.
Dalam perjalanan, berbagai rintangan memperlihatkan bagaimana masing-masing tokoh menghadapi tantangan. Kekuatan fisik tidak selalu menjadi solusi, sementara kecermatan sering kali menyelamatkan dari bahaya yang mengancam.
Salah satu peristiwa penting terjadi ketika mereka hampir kehilangan nyawa akibat derasnya arus sungai yang dilalui. Kejadian itu menegaskan bahwa keberanian tanpa perhitungan dapat membawa risiko besar.
Setibanya di puncak, mereka berhadapan dengan penguasa gaib yang menjaga bunga sakti tersebut. Syarat pengambilan bunga menuntut adanya pengorbanan, yakni satu di antara mereka harus tinggal selamanya sebagai penjaga gunung.
Syarat tersebut menjadi titik balik cerita karena memunculkan konflik batin. Ambisi dan ketulusan saling berhadapan dalam situasi yang menentukan masa depan banyak orang.
Dalam perebutan bunga sakti, kekuatannya hilang dan murka penguasa puncak gunung pun tak terhindarkan. Jaka Sumbing akhirnya dikutuk menjadi gunung batu sebagai simbol kesombongan yang membawa penyesalan abadi.
Sementara itu, Jaka Sindoro tetap berupaya menyelamatkan rakyat dengan memanfaatkan sisa kekuatan yang ada. Ia meracik ramuan dari air kolam tempat bunga tumbuh dan mengorbankan dirinya hingga berubah menjadi gunung yang berdiri di samping saudaranya.
Ramuan tersebut berhasil menyembuhkan wabah yang melanda Kerajaan Medang. Kehidupan kembali pulih, meskipun kerajaan harus menerima kenyataan kehilangan dua pewarisnya.
Sejak saat itu, masyarakat meyakini bahwa Gunung Sumbing melambangkan ambisi tanpa kendali, sedangkan Gunung Sindoro melambangkan ketulusan dan pengorbanan. Legenda ini terus diceritakan sebagai pengingat tentang pentingnya keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tanggung jawab. (***)
Sumber : @WalkingInJava
(Rizki).














































