MNRTV NEWS, Poso – Kawasan Lembah Bada di Kabupaten Poso resmi mendapat sorotan dunia setelah UNESCO mencatat situs ini sebagai salah satu kawasan budaya dengan lebih dari 1.000 peninggalan megalitik.
Keberadaan situs tersebut menempatkan Lembah Bada sejajar dengan peradaban besar dunia, termasuk Yunani kuno.
Negeri Seribu Megalit
Berada di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Lembah Bada dikenal luas sebagai “Negeri Seribu Megalit”. Ribuan peninggalan bersejarah berupa arca batu antropomorfik dan zoomorfik, kalamba (kubur batu), serta wati baula masih berdiri kokoh hingga kini.
Di antara temuan yang paling ikonik adalah Patung Palindo, sebuah arca besar dengan ekspresi wajah tersenyum yang kemudian dijuluki masyarakat sebagai “Sang Penghibur”.
Meski penelitian terus dilakukan, hingga kini belum ada jawaban pasti siapa pembuat patung-patung tersebut dan untuk apa tujuannya. Sejumlah arkeolog memperkirakan peninggalan megalitik ini sudah berusia ribuan tahun, sezaman dengan peradaban-peradaban besar dunia.
Apresiasi dan Harapan
Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW.FRN), Agus Flores, menyampaikan apresiasinya atas pengakuan internasional terhadap Lembah Bada. Ia menegaskan, situs ini adalah bukti kejayaan peradaban Nusantara yang wajib dijaga bersama.
“Ini adalah warisan dunia yang berada di tanah kita sendiri. Jangan sampai kekayaan budaya ini hilang atau terabaikan. Pemerintah pusat, daerah, akademisi, media, dan masyarakat harus bersinergi untuk melindungi, meneliti, dan mempromosikan Lembah Bada. Nusantara memiliki peradaban setara dengan dunia Barat, dan Lembah Bada adalah buktinya,” tegas Agus Flores, Senin (25/8/2025).
PW.FRN juga menyatakan komitmennya untuk menjadi garda terdepan dalam menyuarakan perlindungan warisan budaya Indonesia, termasuk mendorong percepatan penetapan Lembah Bada sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Potensi Wisata dan Pusat Riset Dunia
Dengan kekayaan arkeologi yang masih menyimpan banyak misteri, Lembah Bada berpotensi menjadi magnet peneliti internasional sekaligus destinasi wisata budaya kelas dunia.
Agus Flores menutup pernyataannya dengan mengingatkan agar semua pihak menjaga kelestarian alam dan situs bersejarah di kawasan tersebut.
“Jangan warisan sejarah dirusak oleh manusia tak beruntung. Manusia tak beruntung itu adalah mereka yang merusak alam dan cagar budaya megalitikum,” pungkasnya.














































