MNRTV News – Kondisi Aceh Tamiang pascabanjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, kini masih belum sepenuhnya pulih.
Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak parah saat bencana hidrometeorologi itu terjadi.
Desa Sekumur yang berada di dalam wilayah Aceh Tamiang juga salah satu terdampak parah, di mana banyak kayu gelondongan dan lumpur tebal yang menghancurkan rumah warga.
Kini, dua bulan pascabanjir pun masyarakat di Desa Sekumur dihadapkan dengan persoalan lain.
Desa Sekumur Mengalami Krisis Air Bersih
Masyarakat Desa Sekumur harus bertahan dengan air keruh yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Air ambil dari sungai, bakal dipakai untuk air minum. Nanti akan dimasak,” ucap seorang bocah warga Desa Sekumur dalam video yang diunggah akun Instagram @rifkyjafarthalib.official pada Rabu, 4 Februari 2026.
Tak hanya air sungai yang keruh pascabanjir, video tersebut juga menunjukkan kondisi sumur milik warga.
Dalam video tersebut, air yang meski diambil dari sumur tetap keruh dan tak layak untuk dikonsumsi karena penuh lumpur.
“Air sekeruh ini diambil dari sungai yang akan dimasak untuk dijadikan air minum, coba udah dua bulan Sekumur ini,” sambungnya.
Bertahan Hidup Usai Bencana
Kondisi tersebut harus dihadapi oleh para penyintas meski ancaman penyakit di depan mata.
“Kok mau ya minum air kotor itu? Ini sudah bukan mau apa nggak, tapi soal bertahan hidup, sudah nggak ada lagi kepikiran bakal sakit apa nggak, dalam keadaan tempat tinggal pun hancur, semua terasa mahal di sini,” tulis keterangan pemilik video.
“Dua bulan bencana, Aceh belum baik-baik saja, apalagi di Desa Sekumur ini,” lanjutnya.
Penanganan Pemulihan Air Bersih di Aceh
Menurut catatan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), kerusakan infrastruktur air minum akibat bencana di Provinsi Aceh cukup luas.
Pasalnya, sebanyak 52 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) telah terdampak, yang tersebar di 11 kabupaten dan kota di wilayah provinsi tersebut.
Total kapasitas air yang terganggu mencapai 2.151 liter per detik, sehingga mengancam pasokan air bersih bagi masyarakat.
Hingga kini, penanganan dilakukan secara bertahap dengan berbagai pihak terkait.
Tak hanya dari pemerintah, tim relawan dari berbagai organisasi juga telah membangun beberapa sumur bor agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan air bersih.***













































