Sukabumi, [ MNRTV News ] Sukabumi kembali diuji. Hujan deras yang mengguyur sejak awal pekan membawa banjir dan longsor yang memorak-porandakan 29 kecamatan di wilayah Kabupaten Sukabumi. Tak kurang dari 114 kejadian bencana tercatat dalam kurun waktu dua hari.
Tanah longsor, banjir, hingga pergerakan tanah menyapu pemukiman warga, memaksa ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka. Di tengah deru hujan yang tiada henti, mereka mencari perlindungan di tempat yang lebih aman.
Ratusan Warga Mengungsi, Korban Jiwa Tak Terelakkan
Bencana ini memaksa 167 kepala keluarga (KK) atau 437 jiwa mengungsi. Dari jumlah tersebut, 92 KK (238 jiwa) harus meninggalkan rumah mereka, sementara 140 KK (230 jiwa) masih hidup dalam bayang-bayang bencana susulan. Namun, derita tak berhenti di situ. “Satu orang meninggal dunia, dan dua orang lainnya masih dalam pencarian,” ujar Hadi Rahmat, Pranata Humas Ahli BPBD Jabar.
Dampak yang Meluas
Selain korban jiwa, kerusakan juga meluas ke infrastruktur. 85 rumah rusak ringan, 12 rumah rusak sedang, dan 1 rumah rusak berat. Tak hanya itu, 395 rumah sempat terendam banjir, dengan 97 rumah lainnya berada dalam ancaman. Bahkan, 34 hektare sawah ikut terendam, memukul sektor pertanian lokal.
Kehangatan Solidaritas di Tengah Duka
Namun di tengah musibah ini, solidaritas masyarakat Sukabumi tetap menyala. Relawan, aparat, hingga warga sekitar bahu-membahu membantu proses evakuasi dan pendistribusian bantuan. “Kami tidak sendiri. Warga dan relawan bergerak bersama untuk memastikan keselamatan semua,” ujar Deden Sumpena, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi.
BPBD Sukabumi bersama BPBD Jawa Barat bergerak cepat. Tim evakuasi terus menyisir wilayah terdampak, memastikan tak ada warga yang terjebak. Bantuan logistik mulai didistribusikan ke lokasi-lokasi pengungsian, sementara pendataan kerugian masih terus dilakukan.
“Alam memang sedang menguji kita, tetapi kita tidak boleh lengah. Tetap waspada, laporkan segera jika terjadi situasi darurat,” imbau Hadi.
Sukabumi mungkin sedang berduka, tapi semangat warganya untuk bangkit tetap membara. Dari reruntuhan dan genangan air, ada harapan untuk kembali menatap.