Jakarta, [ MNRTV News ] Masyarakat Betawi di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, masih memegang erat tradisi Lebaran Antar Kampung yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Berbeda dengan tradisi silaturahmi pada umumnya yang berlangsung satu atau dua hari setelah Idul Fitri, tradisi ini dilakukan secara bergiliran selama tujuh hari sejak 1 hingga 7 Syawal.
Menurut Muhamad Ichwan Ridwan atau yang akrab disapa Bang Boim, seorang tokoh muda Betawi yang aktif dalam berbagai organisasi kebetawian seperti Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi, Bamus Betawi 1982, dan Majelis Kaum Betawi (MKB), tradisi ini memiliki nilai-nilai agama, sosial, dan budaya yang mendalam.
“Silaturahmi ini bukan sekadar bertemu dan saling bermaafan, tapi juga mempererat hubungan keluarga lintas generasi serta mengenalkan tradisi kepada anak cucu agar tidak punah,” ujarnya.
Dalam tradisi ini, setiap kampung memiliki jadwal kunjungan tersendiri. Warga dari satu kampung akan mengunjungi kampung lainnya dalam urutan yang telah ditentukan.
Misalnya, pada hari kedua Lebaran, giliran warga Kampung Tanah Koja yang menerima kunjungan, diikuti Kampung Pondok Sambi pada hari ketiga, dan seterusnya hingga hari keenam.
Sementara itu, hari ketujuh digunakan untuk mengunjungi keluarga yang tinggal di luar kawasan Cengkareng dan Kalideres, termasuk ke daerah lain di Jakarta atau kota-kota penyangga seperti Tangerang, Depok, Bekasi, dan Bogor.
Fachry, Ketua Dewan Kota Jakarta Barat asal Cengkareng, mengungkapkan kebanggaannya terhadap tradisi ini. “Tidak semua wilayah Betawi memiliki tradisi seperti ini. Jika pemerintah dapat mendaftarkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), tentu kami akan sangat menyambut baik,” ujarnya.
Fachry, yang dikenal dengan nama Baba pemilik Kedai Kopi Baba, mengaku telah mengikuti tradisi ini sejak kecil. “Saya sudah keliling kampung saat Lebaran sejak masih anak-anak, begitu juga orang tua dan kakek saya. Tradisi ini terus berjalan alami hingga kini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa jadwal yang terstruktur membuat setiap warga tahu kapan mereka harus menjadi tuan rumah dan kapan mereka harus berkunjung.
Lebaran Antar Kampung di Duri Kosambi bukan hanya sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi simbol kuatnya kebersamaan dan kekeluargaan di masyarakat Betawi. Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi ini diharapkan dapat bertahan dan dikenalkan kepada generasi mendatang agar tetap lestari.