Museum Penerangan Gelar Muspen Talk 2025 untuk Angkat Peran Sutradara Perempuan Pertama
Jakarta, [ MNRTV News ] Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Museum Penerangan terus berupaya mengangkat nilai-nilai sejarah perfilman Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional dan Hari Perempuan Internasional, Museum Penerangan menggelar Muspen Talk 2025 dengan tema “Behind the Lens: Ratna Asmara, Sutradara Perempuan Pertama” di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (20/03/2025).
Kepala Museum Penerangan, Abdullah, menegaskan bahwa Muspen Talk bukan sekadar acara diskusi, melainkan wujud komitmen dalam meningkatkan literasi media dan memperkenalkan sejarah perfilman kepada generasi muda.
“Kami ingin melihat generasi muda dan komunitas perfilman terinspirasi oleh sosok Ratna Asmara. Semoga semangatnya dapat mendorong mereka untuk terus berkarya,” ujarnya.
Ratna Asmara, Pelopor Sutradara Perempuan di Indonesia
Sutradara film dokumenter “Merangkai Ratna Asmara”, Ersya Ruswandono, menilai Ratna Asmara sebagai sosok legendaris dalam sejarah perfilman Indonesia.
“Film ini menyelami perjalanan hidup Ratna Asmara sekaligus mengupas peran pentingnya dalam membangun fondasi sinema nasional,” kata Ersya.
Senada dengan itu, peneliti sejarah film Umi Lestari menekankan bahwa keberadaan Ratna Asmara sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia kurang mendapat sorotan dalam arsip dan catatan sejarah.
“Nama aslinya Suratna, kelahiran Sawahlunto, Sumatra Barat. Pada tahun 1950-an, ia menyutradarai setidaknya empat film, termasuk Dr. Samsi, yang menegaskan kiprahnya di industri film yang saat itu didominasi laki-laki,” jelas Umi.
Sebagai bagian dari Kelas Liarsip, sebuah kelompok belajar arsip film dan sejarah perempuan, Umi menilai bahwa pengarsipan memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya sinema.
“Diskusi ini menjadi peluang yang baik bagi generasi muda untuk semakin mengenal peran dan kontribusi perempuan dalam perfilman nasional,” tambahnya.
Membuka Wawasan Generasi Muda tentang Sejarah Film
Acara ini dihadiri oleh 50 peserta, termasuk pelajar, komunitas perfilman, dan masyarakat umum. Salah satu peserta, Navina Ayu, siswi SMAN 48 Jakarta yang aktif di ekstrakurikuler perfilman, mengaku sangat terinspirasi.
“Diskusi ini membuka wawasan saya tentang sejarah perempuan di dunia film, terutama sosok Ratna Asmara. Saya jadi semakin tertarik untuk mendalami sejarah film dan mencoba memproduksi film pendek sendiri,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Tim Kampanye Lomba Film Pendek Bahari on Screen (BOS) 2025 dari Museum Bahari dan Indonesia Hidden Heritage Creative Hub (IHHCH) juga mengajak peserta untuk mengikuti kompetisi film.
“Semoga banyak peserta yang tertarik terjun langsung ke dunia produksi film. BOS adalah kesempatan bagus untuk menyalurkan bakat, memperluas wawasan, serta membangun jejaring di industri film,” ujar Director of Event IHHCH, Bimo.
Melalui Muspen Talk 2025, Komdigi berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal sejarah perfilman Indonesia dan terinspirasi untuk terus berkarya di industri kreatif.(DdG/Yd)