Semarang, [ MNRTV News ] Musyafa Rafdi, peraih medali emas di berbagai kejuaraan taekwondo internasional, kini mengincar jalur baru dalam kariernya.
Mahasiswa S2 Kriminologi Universitas Indonesia (UI) itu tengah mengikuti seleksi Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Polri Tahun Anggaran 2025.
Keputusannya bergabung dengan Polri didorong oleh tekadnya untuk mengungkap kasus-kasus sulit dengan pendekatan ilmiah.
Terinspirasi Rekan Kuliah di Polri
Rafdi, yang merupakan alumnus S1 Kriminologi Universitas Budi Luhur, Jakarta, mengungkapkan bahwa keinginannya menjadi polisi muncul saat berkuliah. Banyak teman kuliahnya di program S2 UI yang merupakan anggota Polri berpangkat Komisaris Polisi (Kompol), Ajun Komisaris Polisi (AKP), hingga Inspektur Polisi Satu (Iptu).
“Mereka sering berbagi pengalaman soal menangani kasus di kelas. Dari situ saya jadi tertarik, karena ilmu kriminologi sangat erat kaitannya dengan kepolisian,” ujar Rafdi saat ditemui di Gedung Werving Hoegeng, Kompleks Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Selasa (25/2/2025).
Menurutnya, bergabung dengan Polri adalah cara terbaik untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya di dunia nyata.
Jejak Emas di Dunia Taekwondo
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, Rafdi juga dikenal sebagai atlet taekwondo berprestasi. Beberapa medali yang pernah diraihnya antara lain:
• Gold Medal Jianguo Chinese Taipei Taekwondo Championship 2022
• Gold Medal Friendship (Internasional) Ukraine Taekwondo Championship 2021
• Gold Medal Bandung Internasional E-Poomsae Tournament 2021
• Silver Medal Taekwondo Bharaduta Cup Polri (Nasional) 2021
• Silver Medal Best of The Best Kartika X Challenge Taekwondo 2019
• Bronze Medal Maluku Nasional Virtual Poomsae Taekwondo 2021
• Bronze Medal Piala Kemenpora RI – The Kick Indonesia Taekwondo Championship 2019
Rafdi mengaku lebih fokus pada cabang poomsae (seni bela diri) dibanding sparring (pertarungan). “Saya lebih suka poomsae karena lebih menekankan pada seni dan teknik beladiri,” katanya.
Pejuang Beasiswa Sejak SMP
Rafdi bukan hanya berjuang di atas matras, tetapi juga dalam pendidikannya. Sejak SMP hingga S1, ia berhasil mendapatkan beasiswa berkat prestasi di taekwondo. Namun, beasiswa itu tidak diberikan begitu saja. Ada syarat akademik dan prestasi yang harus dipertahankan.
“Ada batasan IPK dan jumlah medali yang harus saya raih. Kalau dalam satu semester saya tidak dapat medali, saya harus bayar sendiri uang kuliahnya,” jelasnya.
Kini, dengan latar belakang akademik dan mental juaranya, Rafdi berharap bisa lolos seleksi SIPSS dan menjadi perwira Polri yang mampu mengungkap kasus-kasus sulit dengan pendekatan ilmiah.
“Menjadi polisi bukan hanya soal tugas, tapi juga pengabdian. Saya ingin membawa ilmu kriminologi ke dalam penyelidikan kasus, agar Polri semakin profesional dan presisi,” pungkasnya.