Indramayu, [ MNRTV News ] Pondok Pesantren Al Zaytun yang terletak di Indramayu memperingati Hari Toleransi Sedunia, Sabtu, 16 November 2024 yang bertajuk “Melestarikan Budaya Toleransi Dan Perdamaian Menuju Indonesia Raya Abadi”.
Acara tersebut di hadiri oleh AS Panji Gumilang dan seluruh jajaran Yayasan Pesantren Indonesia yang di ketuai oleh Datuk Sir Imam Prawoto juga segenap eksponen dan seluruh civitas Ponpes Al Zaytun. Tampak hadir juga peneliti BRIN Prof Ahmad Najib, Dr Haryadi Baskoro dari Yogyakarta.
Peringatan Hari Toleransi Sedunia di Al Zaytun di pusatkan di Masjid Rahmatan Lil Alamin dan dihadiri lebih dari 5.000 peserta, dalam acara tersebut juga di jadikan ajang peluncuran Ensiklopedia Toleransi dan Perdamaian https://alzaytun.org dalam bentuk perpustakaan digital Al Zaytun https://mahadalzaytun.perpustakaan.co.id yang diinisiasi oleh tokoh budaya dari Yogyakarta yakni Dr Haryadi Baskoro,” dikutip MNRTV News, Kamis (21/11/2024).
Dalam sambutannya, Panji Gumilang menggaris bawahi pentingnya untuk terus memupuk, menumbuhkan dan melestarikan budaya toleransi dan perdamaian agar Indonesia tetap abadi, jangan pernah ada sebutan mayoritas dan minoritas atas nama agama.
Dia menegaskan, bila agama menjadi tolok ukur dalam berbangsa dan bernegara maka sangat mustahil terjadinya Persatuan Indonesia, Indonesia telah mempunyai dasar negara yang kokoh untuk terciptanya persatuan Indonesia dan bangsa Indonesia harus Kembali kepada dasar negaranya yaitu UUD 45 dan Pancasila.
Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di pondok pesantren Al Zaytun yang dengan gegap gempita merayakan Hari Toleransi Internasional, negara seolah abai dan terkesan tidak memandang pentingnya memperingati Hari Toleransi Sedunia ini, sampai tulisan ini diterbitkan tidak tampak institusi negara maupun pejabat negara yang menyuarakan Hari Toleransi slSedunia ini.
Apakah negara menutup mata bahwa masih banyak terjadi praktek praktek intoleran selama ini? Al Zaytun sebagai institusi pendidikan yang mengusung motto ‘Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi Dan Perdamaian’ sangat layak menjadi contoh terdepan bagaimana lembaga ini konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat, bangsa dan negara dalam mengimplementasikan toleransi yang bukan hanya sebagai slogan namun di praktekkan secara nyata di kampus Al Zaytun.
Pada akhir acara hari toleransi ini seluruh tamu undangan di ajak oleh AS Panji Gumilang menuju Pelabuhan Samudra Biru di eretan kulon guna melihat karya anak bangsa berupa dua buah kapal nelayan berukuran besar dan satu buah kapal yang masih dalam tahap pembuatan, seluruh tamu undangan menaiki kapal yang di beri nama KM Gunung PULO SARI yang berbobot 645 groston, di atas kapal Panji Gumilang menyampaikan latar belakang ide serta gagasan Al Zaytun membuat kapal kapal nelayan berukuran besar.
Indonesia sejatinya adalah negara maritim yang sangat tangguh di perairan Nusantara pada waktu itu, hingga ketangguhan nenek moyang kita menjadi sangat disegani oleh bangsa bangsa lain yang hendak menjajah Nusantara, propaganda para penjajah pun mulai dimainkan hingga nenek moyang kita akhirnya harus ke darat dan hanya Sebagian kecil yang bertahan di laut, kalaupun ada kapal maka yang ada adalah kapal kapal nelayan kecil yang tidak dapat bersaing dengan kapal kapal besar milik penjajah.
Sebagai bentuk rasa syukur atas terselenggaranya acara hari Toleransi Internasional, Al Zaytun membuat tumpeng sebagai jamuan hidangan makan siang di atas kapal, tampak kegembiraan dan ketakjuban dari seluruh tamu undangan setelah mengikuti rangkaian acara Hari Toleransi Internasional di Al Zaytun yang berakhir di atas sebuah kapal nelayan besar di Pelabuhan Samudra Biru di Pantura Indramayu.