Jakarta, [ MNRTV News ] Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Bekasi, Abdul Haris dan Staf BPBD Karsono mendatangi Kantor DPP Asmen, Jumat (20/9/2024) pagi. Sebelumnya dipekan lalu tidak bisa hadir.
Abdul Haris mengatakan, terkait hal ini bahwa pemberitaan yang bersumber dari BMKG mengenai gempa megathrust secara nasional maupun internasional bahwa ancaman gempa megathrust itu masih diprediksi akan terjadinya gempa megathrust.
“Jadi gempa magathrus itu masih di prediksi tapi nyata,” kata Abdul Haris dikutip MNRTV News, Minggu (22/9).
Abdul Haris menjelaskan menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana meminta kepada kita awas dan waspada akan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan menyiapkan segala sesuatu yg diperlukan saat gempa terjadi.
Sementara Karsono pusdalops BPBD kota Bekasi menyampaikan, sebenarnya langkah teorinya sederhana, ketika terjadi gempa besar atau kecil rumusnya dua puluh, dua puluh, dua puluh, dua puluh. Dua puluh pertama adalah dua puluh detik, pada saat terjadi guncangan.
“Untuk yang 20 detik pertama kita diam dan bersembunyi di kolong meja, kursi, dan tas atau buku utk melindungi bagian tubuh kita, yg kedua 20 menit kita punya waktu untuk keluar gedung menyelamatkan diri, dan yg ketiga 20 meter menjauh dari gedung dan pohon atau apapun yg menjadi potensi, apabila sedang berlibur di pinggir pantai kita lari dan menghindar di ketinggian 20 meter,” ucap dia
Yang terjadi di Bandung Raya terjadi tiga sampai lima detik. Itupun skalanya lima, dan kedalamannya cukup dangkal, karena kedalamannya sepuluh kilometer cukup lumayan.
Makanya diberi waktu dua puluh detik maka diperingatkan harus bersembunyi. Ketika ada vidio viral tentang sekolah harusnya guru menenangkan para muridnya bukan disuruh pulang. Hal ini kurangnya pengetahuan dari para guru atau pelaku pendidikan lainya.
Padahal sudah dicanangkan, bukan hanya melaksanakan simulasi tapi ada kajian resiko bencana aktif. Disitu rumusnya dua puluh menit dua puluh detik bersembunyi, dan itu yang dinamakan evakuasi mandiri.
“Mau ngumpet dikolong meja, kursi kan gitu. Kalo banjir naik keatas. ” menambahkan.
Tentang hal yang kedua diterangkan dua puluh menit dua puluh detik ngumpet dimana saja, punya waktu keluar wakti yang diberikan cukup, ditakutkan ada gempa susulan yang lebih besar seperti di Palu.
Dua puluh yang ketiga, dua puluh meter dari adanya gedung yang akan roboh atau pohon tumbang. Pada saat di laut dua puluh ketinggian rumus dan langkah-langkahnya seperti itu.
“Kalau ada nyanyi-nyanyi nih boleh ya nyanyi dikit, harus ngikuti juga boleh.. ” jelas Karsono.
***